Review Novel “Tentang Kamu” Karya Tere Liye

Review Novel “Tentang Kamu” Karya Tere Liye – Sebelum kita mengulas daleman novel ini, ada baiknya kita membaca dan mengetahui terlebih dahulu isi dari sinopsis yang dicantumkan di bagian belakang covernya.

“Terima kasih untuk kesempatan mengenalmu,

itu adalah salah satu anugerah terbesar hidupku.

Cinta memang tidak perlu ditemukan,

cintalah yang menemukan.

Terima kasih. Nasihat lama itu benar sekali,

aku tidak akan menangis karena sesuatu telah

berakhir, tapi aku akan tersenyum karena

sesuatu itu pernah terjadi.

Masa lalu. Rasa sakit. Masa depan. Mimpi-mimpi.

Semua akan berlalu, seperti sungai yang mengalir.

Maka biarlah hidupku mengalir seperti

sungai kehidupan.”

Kalo kita lihat dari isi sinopsis tersebut, sepertinya novel ini banyak membahas masalah cinta-cintaan ya. Eits tapi tunggu dulu.. Nyatanya novel ini malah membahas tentang perjalanan hidup seorang tokoh melalui cerita-cerita yang didapat oleh Zaman Zulkarnaen.

Suatu hari, Zaman diminta menyelidiki kasus tentang harta warisan yang ditinggal meninggal oleh kliennya. Kliennya seorang wanita tua yang memiliki kartu identitas London, namun lahir dan besar dari Indonesia. Sri Ningsih namanya, tokoh kedua dalam novel ini memiliki harta yang luar biasa banyak. Jika tidak menemukan ahli warisnya, kemungkinan besar harta itu akan jatuh di tangan yang salah. Maka dari itu, Zaman Zulkarnaen, mulai menelusuri kisah hidup Sri Ningsih dan cerita-cerita hebatnya.

Zaman Zulkarnaen menelusuri hidup Sri Ningsih lewat sebuah diary miliknya. Ia memulai perjalanan dari tempat lahirnya yang dicirikan dengan rumah-rumah saling beringgungan atap, tiada tanah, rumput, apalagi pepohonan yang terlihat oleh elang yang terbang tinggi.

Zaman harus memecahkan teka-teki itu untuk memulai perjalanannya. Di sana, kita akan menemukan arti sebuah kesabaran dan janji yang dipegang erat oleh Sri Ningsih.

“Selain bagiku, janji adalah janji,

Setiap janji sesederhana apa pun itu,

Memiliki kehormatan.” – halaman 45

Selesai dari rumah Sri Ningsih, Zaman harus berpindah ke tempat lain.Tempat kedua, tempat di mana Sri Ningsih kembali menata hatinya. Di sebuah madrasah, Madrasah Kiai Ma’sum namanya. Disana, Sri Ningsih belajar tentang persahabatan, dan juga terpaksa belajar tentang penghianatan. Di tempat ini, kita akan menemukan sepotong kisah G30S/PKI.

“Apa arti persahabatan? Apa pula arti pengkhianatan? Apakah sahabat baik akan mengkhianati sahabat sejatinya? Bapak, Ibu, ternyata Sri bukan sahabat yang baik. Sri telah mengkhianati teman terbaik. Sri harus memilih, sahabat sejati atau kebenaran. Bertahun-tahun kejadian, tersebut telah berlalu, tapi Sri tetap tak bisa mengusir rasa bersalah.

Disini, di perkampungan santri dekat pabrik gula, dengan loji, kereta lori, cerobong raksasa menjadi saksi, betapa keserakahan bisa mengubah orang lain menjadi lebih dari hewan buas. Sri ingin mengusir semua kenangan mengerikan itu, tapi dia terus menghantui, sia-sia belaka. Teriakan bengis, suasana mencekam, penyiksaan. Sri tidak kuasa untuk menuliskannya lagi… Selamat jalan, Sahabat, semoga besok lusa kita kembali bertemu, dan engkau tidak lagi membenciku.”

Pindah ke tempat ketiga, Zaman harus pergi lagi ke kota yang sibuk dikejar dan mengejar pembangunan. Gedung-gedung tinggi tumbuh seperti jamur di musim hujan. Di kota tempat harapan ribuan pendatang berlabuh. Tiap hari terminal dan stasiun padat oleh penduduk baru. Lampu-lampu gemerlap, jalan-jalan luas, kawasan hijau semakin habis, orang-orang mengejar mimpi. Di sanalah, Zaman akhirnya tau dari mana Sri Ningsih memiliki harta kekayaan yang banyak sekali jumlahnya. Di kota ini, Sri Ningsih belajar tentang keteguhan dan kuat menjalani apapun itu cobaan hidupnya. Di Kota ini pula, ada secarik kisah tentang awal mula adanya gerobak dorong dan kisah Malari di dalamnya.

“Ada banyak hal-hal hebat yang tampil sederhana.

Bahkan sejatinya, banyak momen berharga dalam hidup

datang dari hal-hal kecil yang luput kita perhatikan,

karena kita terlalu sibuk mengurus sebaliknya.” – halaman 257.

Tidak berhenti di sana. Zaman tetap harus berpindah tempat lagi untuk menelusuri kisah seorang Sri Ningsih, karena sejauh itu Zaman belum menemukan ahli waris miliknya. Setelah mengetahui asal mula harta kekayaan Sri Ningsih, Zaman kembali ke London. Di mana Sri Ningsih memulai segalanya dari awal, dan di sana ia menemukan cinta sejatinya, cinta luar biasa. Dan titik terakhir yang dikunjungi Zaman adalah titik mula jalan cerita ini. Dimana ia tahu siapa ahli waris harta kekayaan itu dan dilengkapi denga musuhnya, musuh Sri Ningsih. Yang menjadi penyebab Sri Ningsih harus berpindah-pindah sampai nafas terakhirnya.

“Mencintaimu telah memberiku keberanian,dan

Dicintai olehmu begitu dalam telah memberiku

Kekuatan.” – halaman 409

Tamat.

Judul : Tentang Kamu
Penulis : Tere Liye
Penerbit : Republika Penerbit
Edisi : CetakanVI, Januari 2017
Tebal : 524 halaman
No. ISBN : 978–602–08–2234–1

Leave a Comment